Situs resmi Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta


Tuesday, April 16, 2019

Antara Salah Pilih atau Golput





Mengawali tulisan ini dengan penuh suka cita, bahasan pemilu, perang pemikiran guna dapatkan suara demi tercapainya kepentingan dari masing-masing golongan. Negeri ini, negeri yang subur nan kaya, katanya. Tak dapat dipungkiri semua kita miliki. Bukan jumawa, hanya optimis terhadap kemajuan bangsa ini. Tentu sebagai suatu bangsa kita menginginkan pemimpin yang begitu baik dari segala aspek serta bersih dari segala pandangan. Pemimpin tak hanya butuh otak cerdas, kata-kata manis yang tersusun elok dalam setiap pidato, menguasai seluruh bahasa, semangat menggebu-gebu, maupun image anak bangsa lugu sederhana yang kemudian mencalonkan diri menjadi Presiden RI. Bukan hanya itu, kejujuran dan rasa ikhlas merupakan harga mati untuk mereka yang inginkan kursi nyaman di istana. Sudah lama bangsa ini menanti kemajuan. Begitu haus kita akan kejayaan yang seharusnya kita miliki saat ini. Tahun ini merupakan tahunnya rakyat Indonesia guna tentukan nasib di masa depan. Tak hanya 5 tahun. Waktu singkat tersebut hanyalah waktu jabatan mereka di istana, tetapi kebijakan mereka akan memengaruhi bangsa ini di masa depan. Pilihan kita adalah penentu arah bangsa ini nanti.
       
Politik bersih adalah hal yang sangat diinginkan oleh seluruh rakyat Indonesia khususnya mereka yang termasuk kategori pemilih. Apalagi untuk mereka yang baru memilih pada tahun ini. Namun, sulit rasanya untuk mencari kevalidan data, keaslian informasi, dan fakta sesungguhnya mengenai masing-masing calon. Seluruh timses berjuang mati-matian agar bisa menangkan pesta demokrasi tahun ini. Sulit untuk mengetahui apa sebenarnya tujuan mereka, seberapa ikhlas kah mereka untuk memajukan bangsa ini, dan apakah mereka orang-orang jujur? Entahlah. Berita bohong mengenai pemilu begitu cepat tersebar bag virus mematikan yang bisa hancurkan kesatuan bangsa ini. Sedih rasanya melihat mereka yang fanatik terhadap pilihan mereka sampai rela mengolok-ngolok satu sama lain. 

Mungkin lebih baik jika itu hanya terjadi saat pemilu berlangsung. Akan tetapi, dapat dilihat ketika pilihan mereka tak dapatkan kursi tersebut maka saling fitnah begitu mudah terucap. Dapat dilihat dengan berbagai visi, misi, dan slogan yang ditebarkan, bahwa masing-masing calon miliki kredibilitas, meskipun kekurangan para calon masih mengekor. Namun, buruknya sebagian bangsa ini yang begitu mudah mendengarkan isu-isu buruk mengenai masing-masing calon. Banyak sebagian dari kita yang sebagai first voter pada tahun ini kebingungan dalam menentukan pilihannya. Bersikap netral adalah pilihan mereka hingga kini. Bukannya apatis, mereka hanya takut salah pilih. Ya, sebagian aktivis berkata untuk tetaplah memilih, jika tak ada yang baik, maka pilihlah yang terbaik dari yang terburuk. Bahkan ada undang-undang yang melarang untuk mengajak orang lain untuk golput. 

Seharusnya mereka para penyelenggara pesta ini tak hanya menuntut rakyat untuk tentukan pilihan. Tapi, sajikan data yang valid dan bersih tanpa keberpihakan ke kubu manapun. Dan harusnya mereka tanggapi keinginan mahasiswa untuk berdebat di lingkungan kampus. Bahkan, jangan hanya di lingkungan kampus, tapi di tengah masyarakat luas. Meskipun banyak risiko keamanan yang mungkin menanti. Dan benar apa kata mahasiswa-mahasiswa yang berorasi saat itu bahwa pesta ini adalah milik seluruh golongan bukan hanya golongan atas. Sulit bagi mereka yang tak miliki akses untuk berada dalam ruangan dingin namun panas tersebut. Besar harapan untuk perubahan besar bagi bangsa ini di masa depan dari terselenggarakannya pesta demokrasi ini. Selamat memilih dan jangan takut salah akan pilihanmu. Semua amanah akan ada pertanggungjawabannya. Sekian.

- Moch. Farhan Fadilla -

No comments:

Post a Comment

Kamu punya kritik dan saran? Silahkan melalui kolom komentar di bawah ini