Situs resmi Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta


Monday, October 29, 2018

Apakah Mimpi Sumpah Pemuda Sudah Benar-Benar Terwujudkan?


90 tahun lalu, saat para pemuda Indonesia merupakan garda terdepan dan terberani untuk mengobarkan kemerdekaan, dunia menyaksikan salah satu perjuangan terbaik yang pernah di upayakan suatu bangsa untuk memperjuangkan kemerdekaannya. Pemuda dari berbagai daerah, warna kulit, pemuda Jong Java, Jong Sumatranen, Jong Celebes semua berkumpul untuk kemudian setuju untuk berpijak pada satu tanah, satu nama satu bahasa yang sama: Indonesia. Dengan dibentuknya Sumpah Pemuda, para pemuda saat itu menanamkan mimpinya yang tinggi untuk bukan hanya eksistensi negara yang mati-matian dibelanya, namun juga mimpi supaya Negara Ibu Pertiwi ini berkembang menjadi negara yang netral dengan tetap memiliki posisi meyakinkan di kalangan negara lainnya, menjadi negara yang mantap berpijak pada ideologinya sendiri, negara yang tidak bergantung pada negara lain, dan manusianya juga tepat berdaya guna dengan cepat nya perkembangan dunia dengan tidak melupakan tanah asal sebagai kebanggaannya.
Namun, apa yang terjadi saat ini? Indonesia terbagi menjadi 2 bagian besar; bagian pertama yang tetap memegang teguh ideologi Indonesia nya, dan sisi lainnya yang seolah-olah masa bodoh dengan apa yang terjadi di negeri ini. Perpecahan ini bukan hanya terjadi dalam hal ideologis; hampir dalam semua hal fundamental, rakyat Indonesia mengalami perpecahan. Seperti kondisi Pilpres 2019 yang selalu panas pada saat ini, yang bukan disebabkan langsung oleh para capres cawapres nya, tapi oleh rakyat Indonesia yang mendukung calon pilihannya dengan menjatuhkan calon lainnya. Para negarawan yang mengaku sebagai nasionalis sejati pun, lebih memilih untuk memelihara sendiri ideologi indonesia dalam dirinya, dan memandang ideologi yang bukan sejalan dengan ideologinya rendah dan tidak jarang merendahkan juga. Padahal pada dasarnya ideologi yang bukan berasal dari Indonesia seperti ideologi kapitalis dan sosialis tetap memiliki sisi positif masing masing.
Sebagai WNI yang baik, dalam hal ini mampu mengaku sebagai pemuda ber-ideologi Indonesia namun tidak menolak pengaruh dari luar, sudah sewajarnya dan seharusnya kita menjadi penggerak dan pejuang terjalinnya kebersamaan antar warga negara, maksudnya dalam hal ini Dengan sesama WNI yang secara sadar menolak peduli dengan kondisi Indonesia, dengan tidak merendahkan mereka dan apa yang mereka percayai, bahkan menjadi sumber inspirasi supaya para WNI yang tidak peduli ini bisa berubah sedikit lebih baik, karena pada dasarnya, sedikit demi sedikit dalam berproses lebih baik daripada tidak sama sekali.

- M. Adib Ichwan -

No comments:

Post a Comment

Kamu punya kritik dan saran? Silahkan melalui kolom komentar di bawah ini