Situs resmi Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta


Monday, June 21, 2021

HUT DKI Jakarta ke-494 Jakarta Bangkit

                                                       HUT DKI Jakarta ke-494 Jakarta Bangkit



Peristiwa sejarah merupakan alasan dibalik penetapan tanggal 22 Juni sebagai hari ulang tahun Kota Jakarta. Lebih dari 400 tahun lalu, tepatnya pada 1527, pasukan Demak-Cirebon yang dipimpin oleh Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Jakarta, yang saat itu masih bernama Sunda Kelapa. Pasca kemenangan pasukan Fatahillah, nama Sunda Kelapa kemudian diganti menjadi Jayakarta. Dikutip dari laman resmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, kata "Jayakarta" sendiri diilhami dari Surat Al Fath ayat 1, tentang yang berbunyi "Sesungguhnya Kami telah memberi kemenangan padamu, kemenangan yang tegas." Kalimat "kemenangan yang tegas" itu kemudian dialih bahasakan menjadi "Jayakarta." Sejak jatuh ke tangan Fatahillah, corak kehidupan masyarakat Jayakarta didominasi oleh kebudayaan Islam.

Sayangnya, peperangan antar kubu Islam dan penganut Hindu, Buddha, dan kepercayaan lokal terus berlangsung kala itu. Pendapat lainnya, yang dicetuskan oleh Ridwan Saidi, tokoh sekaligus budayawan Betawi menyebutkan bahwa kata "Jayakarta" bukan dicetuskan oleh Fatahillah. "Nama Jayakarta sudah ada sejak lama. Ada desa di Karawang yang namanya Jayakerta yang merupakan wilayah budaya Betawi. Itu sudah ada sejak zaman Siliwangi," kata Ridwan dalam diskusi "Kontroversi HUT Jakarta" 2011 silam. Pendapat yang sama turut tertuang dalam buku Profil Orang Betawi: Asal-Muasal, Kebudayaan, dan Adat-Istiadatnya yang meragukan klaim pencetusan nama Jayakarta untuk menggantikan Sunda Kelapa. Menurut Ridwan, Jayakarta adalah tempat pengasingan salah satu istri Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja yang memimpin Kerajaan Sunda Galuh pada 1482-1521. Di pengasingan itu, istri sang prabu kehilangan bayi laki-lakinya tak lama setelah dilahirkan. Sehingga, demi memperingati kematian sang bayi, istri Prabu Siliwangi menamakan wilayah tersebut sebagai Jayakerta yang artinya "kemenangan yang jaya." Kemudian, di tahun 1619, pasukan kolonial masuk Jayakarta dibawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen.

Dibawah kepemimpinan Belanda, pada 30 Mei 1619 nama Jayakarta dubah menjadi Batavia. Setelah kekuasaan Belanda berakhir dan berganti dengan penjajahan Jepang pada 1942, nama Batavia dihanguskan dan diubah kembali menjadi Jakarta. Hari ulang tahun Jakarta sendiri mulai ditetapkan oleh pemerintah pada 1953-1958 di bawah kepemimpinan Wali Kota Jakarta, Sudiro. Penetapannya dipertimbangkan dari naskah yang berjudul "Dari Jayakarta ke Jakarta" oleh Mohammad Yamin, Dr. Sukanto, dan Sudarjo Tjokrosiswoyo.

Di ulang tahunnya yang ke-494 ini, Ibu Kota Jakarta mengangkat tema "Jakarta Bangkit." Menurut Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan, tema tersebut mengangkat pesan semangat, optimisme, serta harapan kebangkitan Jakarta yang lebih baik daripada masa sebelum Pandemi. "Tahun lalu, kita dalam masa ujian dan tantangan yang relatif baru, karena baru kali ini kita berhadapan dengan wabah, jadi tahun kemarin kita ambil tema tangguh, kita tengok ke belakang bahwa tahun kemarin semua kegiatan landai baik ekonomi, sosial dan budaya, sehingga kalau diilustrasikan kurvanya menurun," kata Anies seperti yang dilansir dari Antara, Senin (21/6/2021). Selain jargon, ulang tahun Jakarta tahun ini turut dilengkapi dengan logo yang menggambarkan harapan dan mimpi masyarakat Jakarta untuk bangkit.

https://tirto.id/sejarah-hut-dki-jakarta-tema-perayaan-ulang-tahun-jakarta-2021-gg5A

No comments:

Post a Comment

Kamu punya kritik dan saran? Silahkan melalui kolom komentar di bawah ini