Situs resmi Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta


Saturday, April 25, 2020

Kesetaraan Gender: Dorong Produktivitas dan Pertumbuhan Bisnis


Saat ini kesetaraan gender masih menjadi tantangan di seluruh dunia kerja, termasuk Indonesia. Padahal, kesetaraan gender diakui dapat menimbulkan dampak positif secara luas. Oleh karena itu, berbagai inisiatif dilakukan untuk mendorong perusahaan menciptakan lingkungan kerja yang nyaman bagi karyawan yang memiliki multi peran, serta mendukung perubahan untuk tercapainya kesetaraan gender di dunia kerja. Maka dari itu, diperlukan peran bersama untuk mendorong partisipasi perempuan dalam pembangunan ekonomi dengan memacu produktivitas, menghadirkan pasar tenaga kerja yang adil dan kompetitif serta berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan.
Kesetaraan gender merupakan jantung dari pekerjaan yang layak. Jika kesetaraan gender diimplementasikan, maka kesejahteraan secara global dapat mengalami peningkatan hingga mencapai 21,7%. Sebaliknya, kerugian pada human capital wealth secara global diperkirakan mencapai USD 160,2 triliun akibat dari ketidaksetaraan gender. Survei Sosial Ekonomi Nasional 2017 menunjukkan bahwa persentase penduduk laki-laki dan perempuan di Indonesia hampir berimbang, yakni laki-laki sebesar 50,24% dan perempuan sebesar 49,76%. Namun, kondisi itu bertolak belakang dengan jumlah laki-laki dan perempuan yang aktif dalam perekonomian. Selama tahun 2011 hingga 2015, Survei Angkatan Kerja Nasional menunjukkan bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan berada jauh di bawah laki-laki, yakni berkisar antara 48 hingga 51 persen. Sedangkan, partisipasi angkatan kerja laki-laki hampir dua kali lipat dibandingkan perempuan, yakni mencapai 83 hingga 84 persen.
Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Sumiyati menyatakan jumlah perempuan di Indonesia sekitar 140 juta jiwa merupakan kekuatan bangsa. Sebaliknya, apabila perempuan tidak dapat menyumbangkan kontribusi konkret bagi pembangunan Indonesia maka akan menjadi kerugian besar bagi bangsa. Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, proporsi tenaga kerja perempuan di sektor informal mencakup 70% dari keseluruhan tenaga kerja perempuan. Tingginya peran perempuan di sektor informal dan rendahnya di sektor formal menandakan terbatasnya akses perempuan terhadap peluang pasar tenaga kerja di Indonesia. Di satu sisi, pekerjaan informal memberikan fleksibilitas. Di sisi lain, pekerjaan informal mengindikasikan kurangnya keterjaminan pekerjaan, upah yang rendah, serta keterbatasan terhadap pelatihan profesional dan promosi karir dibandingkan dengan pekerjaan di sektor formal.
Presiden Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) mengatakan, "Untuk terus berkembang, perusahaan juga perlu menciptakan tempat kerja yang ramah gender, mengembangkan investasi berorientasi perempuan, menggalakkan praktik keragaman, serta terus meningkatkan jumlah perempuan yang memegang posisi kunci di sebuah perusahaan.” Kesetaraan gender di lingkungan kerja dapat mendorong peningkatan produktivitas dan pertumbuhan bisnis secara signifikan. Kesadaran itu semakin meluas meski masih terdapat sejumlah tantangan. Bagi perusahaan, kesempatan untuk menambah lebih banyak perempuan pada jajaran dewan dan kepemimpinan senior merupakan sebuah prestasi besar.
Secara global, Kajian World Economic Forum (WEF) 2017 mengindikasikan bahwa kesetaraan gender akan meningkatkan pertumbuhan domestik bruto (PDB) global sebesar US$ 5,3 triliun. Sejalan dengan hal itu, jika tingkat partisipasi angkatan kerja, jam kerja, dan produktivitas kerja rata-rata perempuan setara dengan laki-laki, maka PDB negara-negara OECD secara teori akan meningkat sebesar 20% dan PDB yang dihasilkan oleh perempuan akan meningkat 50%. Pada posisi entry-level professional Bank Dunia, perempuan berada di angka 47%. Hal ini patut diapresiasi bersamaan dengan fakta bahwa 57% dari lulusan universitas di Indonesia adalah perempuan. Namun, angka tersebut menurun drastis untuk posisi manajemen tingkat menengah dan tinggi. Pada manajemen tingkat menengah, perempuan hanya mencakup 20% dari keseluruhan pekerja. Angkanya lebih kecil lagi untuk manajemen tingkat tinggi, yakni 5% untuk posisi CEO dan 5% untuk Board Members.
Banyak studi yang mencoba menguantifikasi potensi manfaat dari mereduksi ketimpangan gender bagi perekonomian. Umumnya penelitian menemukan bahwa terobosan kecil untuk menutup ketimpangan gender akan menunjukkan hasil yang signifikan. Alih-alih menjadi sandungan, kondisi ketimpangan gender di Indonesia dapat dilihat sebagai potensi besar kontribusi perempuan terhadap pertumbuhan ekonomi yang belum tergali. Potensi ini dapat digali melalui usaha-usaha mewujudkan kesetaraan gender di sektor ekonomi. Hal ini berarti perempuan dan laki-laki memiliki kondisi dan potensi yang sama untuk berkontribusi pada pembangunan nasional dan merealisasikan hak-haknya sebagai manusia. Wujud dari kesetaraan gender adalah tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki dalam kesempatan berpartisipasi, memperoleh akses, dan merasakan manfaat dari pembangunan nasional.

Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Sumiyati mengatakan, “To empower bukan sekadar to give power. Seperti halnya laki-laki yang memiliki kekuasaan, perempuan secara alamiah juga memiliki kekuasaan dengan ciri yang berbeda dengan laki-laki, sehingga kontribusinya dapat memberi nilai tambah bagi tempat mereka bekerja. Konsep empowerment yang dibutuhkan perempuan bukanlah to be given power, melainkan to be given opportunity”.

-Karunia Sekar-

No comments:

Post a Comment

Kamu punya kritik dan saran? Silahkan melalui kolom komentar di bawah ini