Situs resmi Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta


Thursday, June 27, 2019

Lautku Beradu dengan Sampah Plastik


Saat ini populasi penyu terus mengalami penurunan. Bahkan kepunahan penyu pun semakin terangkat ke permukaan. Populasi spesies penyu terus mengalami penurunan karena berbagai macam hal, seperti pemanfaatan penyu sebagai hewan peliharaan, makanan, perubahan iklim, dan yang paling signifikan adalah karena rusaknya ekosistem habitat penyu. Ya habitat penyu adalah laut.
Saat ini, ekosistem laut tak lagi sama. Dominasi sampah dan limbah telah menjadikan biota lautnya tak lagi bisa bernapas lengang. Sampah yang paling membahayakan ekosistem laut adalah plastik.
Bagaimana plastik sampai ke laut? Tentu saja karena masyarakat membuang sampahnya ke sungai. Sampah itu mengalir mengikuti arus sungai ke muara hingga ke laut.
Mikro plastik tidak hanya membunuh penyu dan biota laut lain. Dalam jangka panjang, manusia juga akan terdampak karena mengkonsumsi ikan dan produk laut lainnya. Ikan yang sudah menelan mikro plastik, menyerap racunnya, dan kemudian berpindah ke manusia yang memakannya.
Yang menakutkan dari sampah plastik yang masuk ke laut, adalah sampah plastik tidak bisa terurai. Jadi, ketika sudah masuk ke perairan butuh waktu ratusan tahun untuk terurai. Hal itu akan menjadi ancaman serius jika nanti termakan oleh binatang laut, biota laut, oleh mikrorganisme laut.
Bila hal ini terus terjadi, bukan tidak mungkin bila dalam beberapa tahun ke depan spesies penyu akan benar-benar punah.
Tidak bisa dipungkiri, plastik merupakan temuan yang sangat  bermanfaat sepanjang perjalanan sejarah manusia. Plastik mempunyai sifat yang tahan air, tahan lama, dan praktis sehingga dianggap paling tepat sebagai kemasan atau pelindung segala hal. Tanpa sadar, kehidupan kita begitu bergantung dengan benda ini.
Hingga saat ini, belum ditemukan metode paling tepat untuk membersihkan sampah plastik dari laut. Satu-satunya cara, adalah mengurangi penggunaan plastik, dan satu hal yang pasti, tidak membuang sampah ke sungai. Jika tidak, maka laut akan menjadi tempat sampah raksasa bagi penduduk bumi. Sampah plastik yang berakhir di lautan sangat berpotensi mencemari dan memberikan dampak yang serius bagi keseimbangan ekosistem di laut.
Jika tidak ingin sampah plastik semakin menumpuk di rumah atau di lingkungan tempat tinggal. Salah satu caranya adalah dimanfaatkan  kembali alias di daur ulang. Tidak hanya mengurangi volume sampah plastik di lingkungan tempat tinggal. Hal ini juga bisa dijadikan sebagai lahan bisnis baru.
Sekarang banyak produk barang pakai seperti tas bahkan keranjang pakaian yang berbahan dasar dari sampah plastik. Lumayan kan? tidak hanya menjaga lingkungan tetapi juga mangasah kreatifitas kita dalam memanfaatkan sebuah peluang usaha.

Melihat fenomena ini, kita harus mulai sadar bahwa kerusakan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Lingkungan yang kurang bersih, banjir dan penyakit dimana-mana bukan kesalahan satu individu bahkan pemerintah. Tapi kita semua lah yang lalai dalam menjaganya. Jika ingin lingkungan tempat tinggal sekitar jadi bersih, mulailah menjadi pribadi yang bersih terlebih dahulu. Belajar cintai lingkungan dan hindari aktivitas-aktivitas yang bisa merusak lingkungan, seperti membuang sampah sembarangan dan mengurangi penggunaan produk dengan bahan plastik.

-Misyka Qalbiya N. I.-

No comments:

Post a Comment

Kamu punya kritik dan saran? Silahkan melalui kolom komentar di bawah ini